takpenting

coretan Takpenting

Kultwit Part 2

Posted by takpenting pada Desember 12, 2010

Masih saya copy-paste dari kultwitnya @cliffmubarak tentang sekuler baca baik-baik,biar ngga salah paham. semoga bermanfaat

Telaah ini akan mengupas kitab Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm karya Ali Abdur Raziq (1888-1966) yang terbit di Kairo tahun 1925.

Kitab yang terbit setahun setelah runtuhnya Khilafah tersebut intinya menolak Khilafah sebagai bagian ajaran Islam.

Ide batil Raziq itu telah mengobarkan perlawanan dari kalangan ulama saat itu, khususnya ulama Universitas al-Azhar.

Maklum, di universitas inilah Raziq bekerja sebagai dosen sastra dan sejarah Arab di Alexandria.

Para ulama itu secara ijma menyetujui keputusan memecat Raziq dari Korps Ulama al-Azhar.

Sayang, dominasi sekularisme di Dunia Islam akibat penjajahan telah mengaburkan hakikat yang jelas itu.

Tak sedikit kaum liberal yang mengidolakan sosok Raziq tersebut dan menggembar-gemborkan pemikirannya yang rusak.

Luthfi Assyaukanie, pentolan JIL, memuji habis-habisan Raziq sebagai peletak dasar teologi negara modern.

Yg telah menyelamatkan Islam dari pengalaman-pengalaman politik negatif yg terjadi sepanjang sejarah Islam (@assyaukanie, 2002).

Politisi sekular juga tak sedikit yang sangat mengagungkan ide Raziq. Misalnya saja Soekarno, presiden RI pertama.

Selain pengagum berat Mustafa Kamal Attaturk, Soekarno ternyata juga seorang pengikut fanatik Raziq.

Substansi gagasan Raziq dalam kitabnya, Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm ialah SEKULARISASI ISLAM.

Artinya, Raziq ingin mengubah agama Islam yang asli menjadi agama sekular yang tidak mengajarkan suatu sistem pemerintahan.

Pendirian sekularistik Raziq itu cukup jelas ketika dia merumuskan hubungan agama dan negara.

Kata Raziq, Islam adlh, “Risâlah lâ hukm, wa dîn lâ dawlah.” (Islam adlh risalah, bukan pemerintahan. Islam adlh agama, bukan Negara)

Tahu arti sekularisme, dari asal kata “sekuler” yang biasa diartikan secara politis, yakni memisahkan agama dari negara.

Pengertian sekuler adalah memisahkan masalah keduniaan dengan masalah keakheratan.

Atau memisahkan masalah kehidupan kesehariann dengan agama.

Seakan tindak laku kita itu ada yang urusan keduniaan sendiri dan ukhrawi sendiri.

Tindakan yg ukhrawi dibatasi hanya pd urusan ibadah mahdhah (ritualis) / tindakan yg jelas acuan teksnya dlm Qur’an / Hadits.

Sementara yang tidak secara langsung disebut dalam teks, dianggap tak ada urusannya dengan akhlaq.

Tuhan dianggap tdk tahu, klau mmanipulasi uang proyek itu dosa. Tuhan dianggap tdk paham, klau mmperkaya diri itu sbuah kmungkaran.

Tuhan dianggap tidak memantau kelakuan yang tidak ditulis oleh teks yang diwahyukannya.

Begitulah bahayanya sekularisasi, yakni perbuatan yang membodohi ajaran Tuhan.

Memandang ketika teks ada, semisal kewajiban beramar makruf & berbuat adil, ttp krn brsifat umum, kemudian teks itu dianggap tidak ada.

Sewaktu-waktu teks itu dianggap ada, tapi pengertiannya disamarkan atau bahkan sengaja digelapkan.

Itulah kriminalitas dalam agama, yakni tindakan menyamarkan, menggelapkan atau memanipulasi substansi ajaran Tuhan.

Kalau yang membodohi adalah seorang yang dikenal ulama, maka urusannya menjadi amat serius dalam masalah dakwah.

Sekulerisme, berbahaya karena ide ini merupakan asas dari ideologi imperialis Kapitalisme.

Inti ide ini adlh mmisahkan agama dr kehidupan sosial-kemasyarakatan. Agama gn campur tangan dlm urusan sosial kemasyarakatan.

Politik, ekonomi, pendidikan, budaya, hubungan luar negeri, tidak boleh diatur oleh agama secara praktis.

Bukan berarti agama tidak diakui dalam sekulerisme ini, tapi agama dimandulkan hanya urusan ritual, moral, dan individual.

Dunia diatur oleh para kapitalis yg mmbuat aturan atas nama rakyat, tapi justru menyengsarakan rakyat.

Kemiskinan, konflik, kesengsaraan, ketidak adilan, mrpkn buah dr kepemimpinan ideologi Sekulerisme-Kapitalisme sekarang ini.

Sekularisme secara terminologis, adlh paham pemisahan agama dari segala aspek kehidupan.

Dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari negara dan politik.

Timbulnya faham ini dari negara-negara Eropa. Negara yang pertama menerapkannya dalam pemerintahan ialah Perancis tahun 1789.

Namun sekularisme sebagai ideologi negara dinilai banyak pengamat telah gagal mencapai tujuannya.

Di Indonesia, Nurcholish memiliki peran besar dan tergolong berani dg jargon “pembaharu” nya.

Nurcholish: “Orang yang menolak sekularisasi lbh baik mati saja. Krn sekularisasi adlh inherent dg khidupan manusia skrng di dunia ini.

Meskipun mndapatkan tentangan keras dr tokoh2 Islam di Indonesia, paham sekularisasi Nurcholish Madjid tetap berjalan.

Nurcholish Madjid membungkus paham sekularisasinya dengan kata “pembaruan”.

Ia diberi sebutan oleh Majalah Tempo sebagai “Penarik Gerbong Kaum Pembaharu”.

Tokoh-tokoh Islam Liberal di Indonesia kemudiannya menjadikan sekularisasi sebagai program penting gerakan liberalisasi Islam.

Perjuangan kelompok Islam Liberal di Indonesia (dimotori JIL ) secara jelas mau membentuk negara sekular.

Mereka sudah menyatakan secara terbuka dan mendapat dukungan yang kuat dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia.

Silakan berkomentar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: