takpenting

coretan Takpenting

Peduli Lingkungan melalui Paperless

Posted by takpenting pada Desember 1, 2012

Akhir-akhir ini sering mendengar kata Paperless. Sebenarnya apa itu Paperless?
Paperless adalah suatu usaha mengurangi pemakaian kertas, namun bukan meniadakan pemakaian kertas sama sekali. Karena kita hampir ngga mungkin (atau masih belum?) hidup tanpa ketas dalam kegiatan sehari-hari
konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) beberapa tahun ini gencar disuarakan oleh para aktivis pecinta lingkungan. Reduce yang artinya mengurangi penggunaan, Reuse yang artinya untuk menggunakan kembali, dan Recycle yang artinya untuk mengolah kembali. Paperless merupakan bagian dari wujud Reduce.
Memang, kertas sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Penggunaan kertas makin meningkat di mana-mana. Dapat kita bayangkan, sebuah kantor, kampus, sekolah merupakan tempat-tempat yang di dalamnya menggunakan ribuan bahkan jutaan kertas. Kertas-kertas tersebut dipakai mulai dari untuk coret-coretan, memo, notulensi, buku tulis, skripsi hingga dokumen laporan.
Kita semua tahu (atau pura-pura tidak tahu?) bahan baku kertas adalah kayu. Jadi, untuk menghasilkan kertas, pabrik kertas harus menebang pohon dengan jenis dan kualitas tertentu. Semakin banyak kebutuhan akan kertas artinya semakin banyak pohon yang akan ditebang. Kasus penebangan liar pada hutan yang berimplikasi pada degradasi hutan dan deforestsasi atau penurunan terhadap kuantitas pohon di hutan.
Apabila semakin banyak hutan yang digunduli untuk ditebang, maka kerusakan lingkungan seperti ini akan berakibat pada perubahan iklim dan global warming. Misalnya efek rumah kaca, yang yang diakibatkan kurangnya penyerapan karbondioksida. Efek rumah kaca akan meningkatkan suhu bumi, lalu akan berakibat pada banyaknya gejala cuaca yang aneh seperti El Nino, La Nina, mencairnya es di kutub dan bencana alam lainnya.
Dapat kita dibayangkan seberapa luas hutan yang harus ditebang untuk menghasilkan kertas. Untuk ilustrasi (dari yang saya baca dari beberapa sumber), pembuatan satu rim kertas A4 bisa menghabiskan sebatang pohon berusia minimal 5 tahun. Untuk kertas berkualitas baik diperlukan campuran pohon berkayu keras dan lunak. Suatu lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki dapat menghasilkan 942.100 halaman buku atau setara dengan 4.384. 000 perangko atau setara dengan 2.700 eksemplar koran. Jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 12 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air.
Nah, balik lagi tentang Paperless, saya pernah membaca di sebuah koran nasional bahwa di negara-negara maju seperti misalnya di Amerika, Kanada, serta Negara Eropa lainnya, masyarakat disana mulai meninggalkan kebiasaan membaca Koran ‘konvensional’ (baca:Koran cetak). Di Negara-negara tersebut kini lebih populer koran online, yang mengakibatkan banyaknya perusahaan koran cetak di sana yang bangkrut ataupun berkurang jauh pendapatannya. Masyarakat kini lebih sering membaca berita online, karena lebih real time.

Di Indonesia sendiri, beberapa media massa terkenal mulai menyediakan Koran Digital atau e-paper yang isinya sama persis dengan versi cetaknya. Misalnya Kompas, Republika, Tempo, dll. Ada yang berbayar, adapula yang masih menggratiskannya.
Manfaat paperless
Paperless memiliki manfaat bukan hanya untuk lingkungan, namun juga untuk kita sendiri. Untuk lingkungan, untuk menjaga kelestarian hutan, menjaga flora dan fauna yang ada di hutan agar tidak punah, mencegah terjadinya degradasi hutan dan deforestasi hutan, mencegah global warming, mengimbangi jumlah karbon yang ada di bumi. Sedangkan manfaat bagi manusia yakni efisiensi terhadap biaya produksi, berkurangnya polusi udara dan lain-lain.

Btw, munculnya gadget-gadget baru berteknologi canggih di pasaran juga berperan penting dalam upaya Paperless ini loh. Gadget-gadget seperti tablet computer, PDF Reader memunculkan minat masyarakat untuk ‘meninggalkan’ kertas. Lebih mudah dibaca sambil bersantai atau berbaring dan ringan untuk dibawa, daripada kemana-mana bawa buku tebel? Berat!
Tindakan Nyata Saya
Nah, apa aja sih yang upaya-upaya saya dalam tren Paperless ini?
Saya yang seorang mahasiswa, seringkali mencatat materi perkuliahan dengan mengetiknya di laptop atau smartphone. Hari gini masih nyatet di kertas?!
Oiya, peran kampus dan dosen juga penting banget. Saya sangat salut dengan beberapa dosen saya di kampus yang menyuruh mahasiswanya mengumpulkan tugas makalah/laporan dalam bentuk softcopy atau e-mail. Tindakan ‘kecil’ seperti sangat menghemat kertas. Umumnya dalam satu makalah dengan syarat minimal 20 halaman. Itu baru 1 mahasiswa, coba dikalikan jumlah mahasiswa didikannya? Coba dikalikan jumlah semua mahasiswa dalam 1 kampus? Coba dikalikan seluruh jumlah mahasiswa di Indonesia? Hehe..cukup-cukup, terlalu banyak!
Peran kampus sendiri, di kampus saya, kampus menyediakan fasilitas Elisa. Yaitu semacam situs untuk membantu interaksi dosen dengan mahasiswa dalam hal penugasan, pembahasan materi, dll. Di Elisa ini dosen dapat mengupload materi perkuliahan, sehingga mahasiswa tidak perlu ngeprint atau mengfotocopy materi jika dalam bentuk hardcopy. Hemat kertas!
Tindakan nyata yang saya lakukan dalam mendukung Paperless lainnya misalnya saya ngga perlu mencetak undangan untuk mengajak teman-teman saya untuk menghadiri acara-acara kampus, dll. Saya bisa mengajak mereka via twitter, SMS, atau membuat invitation di Facebook. Mudah! Hemat kertas!
Tindakan nyata lain, saya biasa menggunakan smartphone saya untuk mencatat hal-hal penting agar tidak lupa. Mudah dipindahkan, bisa lewat Bluetooth, e-mail dll. Daripada mencatatnya di kertas memo. Kadang lupa ditaruh dimana, dan kadang mudah hilang. Repot!
Kalaupun harus menggunakan kertas, saya biasa memanfaatkan kembali kertas-kertas bekas yang masih layak dipakai.
Mewujudkan era Paperless memang tak mudah. Diperlukan sosialisasi dan beberapa tantangan. Tidak mudah untuk mengubah perilaku manusia, akan tetapi jika memang ada keinginan, kecintaan kepada lingkungan, ada kepedulian untuk generasi mendatang.

Di pasaran dapat dijumpai kertas daur ulang akan tetapi harga jauh lebih mahal daripada kertas non daur ulang. Sebenarnya kertas daur ulang biayanya tidak besar jika diproduksi dalam jumlah besar. Permasalahannya ketersediaan kertas yang mau didaur ulang itu yang sulit diperoleh dalam jumlah besar. Kenapa? Balik lagi ke perilaku kita yang belum mau mengumpulkan kertas bekas. Jumlah tempat sampah khusus berbahan kertas juga masih jarang.

Tantangan lain, seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya tentang pemanfaatan email dan elisa, belum banyak dosen yang memanfaatkannya. Banyak dosen yang tidak menerima laporan atau makalah melalui e-mail, atau tidak menyediakan materi perkuliahan dalam bentuk softcopy.
Mengubah perilaku memang sulit, akan tetapi bila ada kemauan yang kuat pasti bisa..
Saran dan Harapan
Kita perlu meniru hal-hal kecil di Negara-negara maju, seperti dikuranginya penggunaan karcis parkir, tiket pesawat/kereta/moda transportasi lain dalam bentuk kertas dengan menggantinya dalam bentuk kartu. Saya juga berharap kegiatan surat menyurat di instansi pemerintah dan perkantoran dapat diganti dengan surat elektronik (surel). Selain menghemat kertas, juga lebih cepat dalam pengirimannya, kan?
Peran peneliti juga diperlukan dalam mewujudkan era paperless ini. Dibutuhkan riset misalnya untuk bahan baku pengganti dalam memproduksi kertas. Misalnya memanfaatkan tanaman lain, tanpa harus menebang pohon di hutan.
Saya juga berharap semakin banyak muncul Koran dalam bentuk digital, buku-buku pengetahuan dalam bentuk e-book, modul, jurnal, novel, dll.

Memang sangat dibutuhkan sosialisasi terus menerus untuk menerapkan kebijakan paperless ini sehingga menjadi suatu budaya baru untuk menjaga kondisi lingkungan sekarang ini. Kebijakan penerapan paperless ini seharusnya juga didukung oleh pemerintah, misalnya membuat suatu regulasi.
Sekian, tulisan dari saya. Ingat, sekecil apa pun upaya yang kamu untuk mengurangi penggunaan kertas, akan sangat membantu kondisi lingkungan kita.Ajak teman-teman, dan saudara kamu untuk membudayakan Paperless ini. Demi bumi kita, demi lingkungan kita! Go Green!
Yuk, cintai lingkungan!

Pertamina banner

12 Tanggapan to “Peduli Lingkungan melalui Paperless”

  1. Saya sampai sekarang masih paper based. Masih kesulitan untuk menyerap materi kuliah kalau sekedar baca dari layar monitor. Mungkin ini masalah psikologis dan bukan kebiasaan semata. Termasuk menghambat paperless, tapi mau bagaimana lagi ya. Hehehe…

  2. takpenting said

    kalo di kertas bisa puas nyorat-nyoret ya mas?hehe…
    sama saya dulu jg gitu.tp lama kelamaan mulai berubah. karna masalah kebiasaan aja sih mgkn🙂

  3. Ngomong-ngomong paperless..
    dari awal kerja sampai dengan sekarang saya punya kebiasaan nggak ngebuang kertas yang gagal print, jadi bisa dibuat note
    dan pastinya jadi super hemat… nggak perlu beli lagi deh🙂
    kalo dikumpul udah super banyak🙂

    • Ngomong-ngomong paperless..
      dari awal kerja sampai dengan sekarang saya punya kebiasaan nggak ngebuang kertas yang gagal print, jadi bisa dibuat note
      dan pastinya jadi super hemat… nggak perlu beli lagi deh
      kalo dikumpul udah super banyak

      Btw silahkan berkunjung juga ke blog saya mas http://bit.ly/Energi74 trims🙂

  4. pegoners said

    kalo aku bentuk paperlessnya…mmm,…salah satunya ketika aku jadi sekretaris kepanitiaan di pondok aku buat undangannya dengan ukuran A4 dibagi empat trus per undangannya langsung ditujukan buat beberapa orang kalau orangnya ada di kamar yang sama,malah pernah satu undangan buat 9 orang,berarti udah hemat brapa tuh…

  5. takpenting said

    wah nice!
    keren tuh tipsnya mba
    makasih udah ngasih komentar🙂

  6. ranti sariningrum said

    kalau menurut saya, penggunaan paperless memang baik. . akan tetapi apabila dialihkan ke media2 internet,tidak semua orang bisa utk mengoperasikan nya.

    “nu puguh na mah da abdi oge te acan tiasa ngagunaken internet”

  7. saya sendiri seorang guru dan kemarin mengikuti ujian KKG dengan komputer masih bingung, dalam artian mungkin saya terbiasa dengan kertas jadi ketika mengerjakan soal berbasil komputer terasa pusing. anak didik saya sendiripun ketika ujian kemarin saya coba dengan komputer katanya juga gak enak, enak menggunakan kertas karena mata lebih santai dibandingkan dengan menatap layar komputer terus menerus. kayakx bentuk fisik masih manusiawi mas hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: